
Aku Kayla, seorang anggota lama Pramuka. Aku anak yang sangat ceria, suka bercanda, dan suka menyanyi saat api unggun. Tapi aku punya satu kelemahan: aku paling takut kalau disuruh menjadi pemimpin upacara.
Bukan karena aku takut pada tugasnya, tetapi aku malu jika ditertawakan kalau membuat kesalahan. Bayangkan, satu sekolah melihatku! Lututku bergetar. Aku juga malu karena suaraku cempreng.
Seharusnya Dian yang dipilih menjadi pemimpin upacara. Namun, tenggorokannya sedang sakit, jadi dia batal bertugas.
Pembina melihat jam. “Upacara satu jam lagi, tapi tidak ada pemimpin! Siapa yang bisa menggantikan?”
Semua terdiam. Tak ada satu pun yang menjawab pertanyaan pembina. Karena tidak ada yang menjawab, pembina langsung menunjukku.
“Kamu yang jadi pemimpin!”
“Tapi suaraku cempreng, Pak,” tolakku.
Suasana menjadi sunyi.
“Kayla!” bisik Kak Asri. “Kamu anggota paling lama di sini. Jadi, kamu yang jadi pemimpin.”
“Nggak… nggak mau aku,” tolakku cepat. Tanganku dingin, jantungku berdegup kencang. “Aku takut suaraku cempreng. Malu.”
Tiba-tiba Kak Aul menyela, “Udah, Kayla. Masa anggota lama cuma bisa di belakang? Kalau kamu nggak maju, upacaranya dibatalkan!”
Kak Asri menambahkan, “Iya. Jangan mementingkan rasa malu atau takut sendiri. Pikirkan nama baik DKS!”
Dadaku sesak. Aku ceria, tapi bukan berarti aku berani. Di satu sisi aku takut salah, di sisi lain aku takut mengecewakan satu sekolah. Jantungku berdegup kencang. Keceriaanku hilang, berganti rasa takut dan beban tanggung jawab.
Aku teringat kata pembina: “Kayla, kamu itu ceria. Itu modal pemimpin. Pemimpin harus bisa menyemangati orang lain.”
Aku juga teringat Tri Satya: “Demi kehormatanku, aku berjanji…”
Aku menarik napas panjang. Senyum yang biasanya kupakai untuk bercanda, kini kugunakan untuk menguatkan diri.
“Kak, saya siap menjadi pemimpin upacara.”
Langkahku ke depan gemetar. Lapangan hening, ratusan mata tertuju padaku. Aku mengumpulkan tenaga dari perut, lalu berteriak sekuat-kuatnya.
“BARISAN, SAYA AMBIL ALIH! SIAP, GERAK!”
Suaraku sempat pecah di awal, tetapi lama-kelamaan terdengar lantang hingga barisan paling belakang.
“KEPADA PEMBINA UPACARA, HORMAT, GERAK!”
“TEGAK, GERAK!”
Tenggorokanku serak, tetapi upacara berjalan lancar. Selesai upacara, Kak Asri menghampiriku. “Kamu hebat jadi pemimpin, Kayla.”
Aku tersenyum sambil minum. “Makasih ya, Kak. Kakak sudah percaya sama aku.”
Ternyata berani itu tidak membutuhkan suara yang sempurna. Berani itu hanya butuh keberanian untuk berteriak walau merasa takut. Karena seorang pemimpin lahir dari keputusan untuk melangkah maju, bukan dari suara yang sempurna.
(Kayla)
