
Untuk Muhammad Usril, kelas IX.B SMP Negeri 3 Kalukku
Di kelas IX.B, ada satu bangku dekat jendela yang hampir tak pernah menimbulkan masalah. Di situlah Usril duduk.
Ia tidak pernah terlambat dan tidak pernah ribut. Kalau bukunya jatuh disenggol teman, ia memungutnya sendiri tanpa menoleh. “Sabar sekali Usril ini, Bu. Nda’ pernah marah-marah,” kata teman-temannya. Saya pun mengira saya sudah mengenalnya. Ternyata belum.
Suatu siang, ia berdiri di dekat meja saya sambil memegang ujung baju seragamnya.
“Tabe’, Bu,” katanya pelan. “Saya… ada tulisanku. Sebenarnya,hobiku menulis.”
Saya terkejut. Selama ini suaranya nyaris tak terdengar di kelas. “Coba mana, kasih lihat Ibu.”
Ia menggeleng malu. “Nanti pi, Bu. Kalau sudah selesai mi.”
Rabu, empat belas Oktober, saat bel pulang berbunyi dan kelas hampir kosong, ia datang lagi membawa lembaran yang dilipat rapi.
“Sudah selesai mi, Bu,Sebenarnya cerita lamami itu Bu kubuat sekitar bulan Desember”
Saya membaca sebagian. Kalimatnya mengalir, runtut, dan penuh perasaan. “Usril, ini betul-betul karyataq sendiri?” Ia terdiam sebentar, lalu menggeleng. Hati saya sempat mencelos. “Bukan, Bu. Ini cerita lama yang pernah kudengar. Kuceritakan lagi. Tapi banyak yang kutambah. Tokoh-tokohnya itu, Bu, saya sendiri yang karang.”
Saya tersenyum. Ia jujur sampai ke bagian yang bisa saja ia sembunyikan, dan kejujuran itu separuh dari bakat seorang penulis. Cerita lama akan mati kalau tak ada yang mau menceritakannya lagi. Yang menceritakannya kembali dengan napasnya sendiri bukan sekadar pengulang, melainkan penyambung.
Siang itu saya memandangi punggungnya di halaman sekolah, di bawah langit Kalukku yang mulai jingga. Langkahnya masih pelan seperti biasa, tetapi saya melihatnya lebih tegak.
Anak yang diam belum tentu tak punya suara. Kadang suaranya hanya sedang ditulis, pelan-pelan, di lembar-lembar yang belum selesai.
By: Humaerah,S.Pd